Anda pasti tidak asing lagi dengan sumpah Palapa yang
diucapkan oleh Patih Gajah Mada di masa kerajaan Majapahit pada tahun
1336. Sumpah yang menyatakan bahwa sebelum menyatukan Nusantara, Patih
Gajah Mada tidak akan menikmati Palapa.
Tapi,
kita tidak akan membahas sejarah mengenai Patih Gajah Mada dan asal
usul sumpah tersebut, tetapi kita akan membahas tentang teknologi dari
satelit Palapa yang namanya juga diambil dari sumpah tersebut. Sebelum kita membahas mengenai satelit Palapa,
tidak lucukan kalau kita tidak tahu apa itu satelit? Satelit merupakan
alat elektronik yang mengorbit di bumi dan mampu bertahan sendiri.
Dapat diartikan sebagai repeater yang berfungsi untuk menerima signal gelombang microwave dari stasiun bumi, ditranslasikan frekuensinya, kemuadian diperkuat untuk dipancarkan kembali ke arah bumi sesuai dengan coverage-nya yang merupakan lokasi stasiun bumi tujuan atau penerima. Dalam komunikasi GEO (merupakan sistem komunikasi satelit yang paling banyak), posisi satelit adalah sekitar 36.000 km diatas bumi.
Ada dua jenis satelit yaitu satelit alami dan satelit buatan:
- Satelit alami adalah
benda-benda luar angkasa bukan buatan manusia yang mengorbit sebuah
planet atau benda lain yang lebih besar daripada dirinya, seperti bulan
yang merupakan satelit alami bumi. Sebenarnya, terminologi ini berlaku
juga bagi planet yang mengelilingi sebuah bintang, atau bahkan sebuah
bintang yang mengelilingi galaksi, tetapi jarang digunakan. Bumi sendiri
sebenarnya merupakan satelit alami matahari.
- Satelit buatan adalah benda buatan manusia yang beredar mengelilingi benda lain, misalnya satelit Palapa yang mengelilingi bumi.
Rute dimana satelit berjalan disebut orbit. Dalam orbit terdapat dua istilah, yaitu apogee (titik terjauh dengan bumi) dan perigee (titik terdekat dengan bumi). Nah, sekarang sudah ngeh kan apa itu satelit? Jika sudah, saatnya kita membahas satelit Palapa Indonesia.
Peluncuran pertama satelit komunikasi domestik Palapa A-1 ke angkasa pada 9 Juli 1976. Satelit yang merupakan buatan dari Hughes (AS) ini diluncurkan dari tanjung Canaveral, Florida, AS. Peluncuran satelit Palapa ini menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga setelah Amerika Serikat (AS) dan Kanada dalam teknologi per-satelitan.
Keputusan Presiden Soeharto ketika itu untuk membeli satelit Palapa ini, sekarang terlihat manfaatnya. Mungkin tanpa satelit Palapa sudah
tidak ada Indonesia yang kita kenal sekarang ini, satelit komunikasi
yang menghubungkan seluruh kepulauan Nusantara dari Sabang sampai
Merauke. Saat itu, Palapa A-1 ditempatkan pada orbit di ketinggian 36.000 km diatas bumi dan dikendalikan oleh Stasiun Pengendali Utama (SPU) di Cibinong, Jawa Barat.
Kemudian, pada 10 Maret 1977, Indonesia-pun berhasil meluncurkan satelit berikutnya yang diberi nama Palapa A-2 yang memilik 12 transponder seperti yang dimiliki Palapa A-1. Kedua satelit komunikasi Indonesia itu memiliki umur yang relatif pendek, yaitu 7 tahun.
Dimana Palapa A-1 berakhir masa operasinya pada tahun 1983 dan Palapa A-2 berakhir
pada tahun 1984. Namun, saat itu pemerintah Indonesia melalui Perumtel
yang kini bernam Telkom telah mengantisipasi umur satelit tersebut
jauh-jauh hari dan sudah memikirkan penggantinya, yaituPalapa B-1 yang diluncurkan pada 17 Juni 1983.
Transponder merupakan
alat yang menerima percakapan dalam satu frekuensi, kemudian
memperkuatnya serta men-transmisikannya kembali ke bumi melalui
frekuensi lain.
Karena suatu masalah, maka satelit Palapa B-1 berumur pendek yaitu hanya 2 tahun. Untungnya pemerintah sudah menyiapkan Palapa B-2 yang
kemudian diluncurkan pada 2 Februari 1984. Namun, satelit tersebut
bermasalah lagi, sehingga tidak masuk pada orbitnya dan kemudian hilang.
Pemerintah Indonesia-pun segera meluncurkan satelit pengganti Palapa B2P pada 21 Maret 1987 dan masuk pada slot orbit 113 derajat Bujur Timur (BT).
Satelit Palapa B-2 yang hilang kemudian berhasil ditemukan. Kemudia diluncurkan kembali dengan nama Palapa B2R dan berhasil menempati slot orbit 108 derajat BT pada 14 April 1990.
Untuk memenuhi kebutuhan Nasional, makan pada 14 Mei 1992 diluncurkan juga satelit Palapa B-4 dan berada pada slot 118 derajat BT. Setelah itu, Indonesia berturut-turut meluncurkan satelitPalapa C-1 pada 31 Januari 1996 dan langsung menempati slot 113 derajat BT. Satelit Palapa C-1 kemudian digantikan oleh Palapa C-2 yang bertipe 3 poros dengan 36 tansponder.
Masing-masing dengan lebar pita frekuensi (bandwith) 36 MHZ yang terbagi dalam 24 transponderC-band standar dengan daya 38 dBW (EIRP) dan 12 transponder C-band perluasan dengan daya 41 dBW (EIRP), memiliki reliabilitas 0,75 yang diluncurkan pada 15 Mei 1996 dan berusia 14 tahun. Satelit ini diluncurkan oleh Ariane-4 milik Arianespace dan masih dapat digunakan sampai tahun 2011.
Pada 31 Agustus 2009 yang lalu, Indosat berhasil meluncurkan satelit Palapa D yang menggantikan satelit Palapa C-2, yang akan berakhir masa orbitnya sekitar tahun 2010 sampai 2011. SatelitPalapa D akan beroperasi di orbit 113 derajat BT yang sekarang masih ditempati satelit Palapa C-2.
Satelit Palapa D akan mempunyai masa operasi selama 15 tahun sedangkan satelit Palapa C-2yang masih mempunyai masa aktif sekitar satu tahun lagi, akan direlokasi ke orbit 150,5 derajat BT yang sebelumnya ditempati Palapa C-1.
Satelit Palapa D&nb
kirim ke teman | versi cetak